Friday, 25 January 2008

Rating:
Category:Books
Genre: Horror
Author:Gue Sendiri
A LETTER FOR UNVEIL SISTER:

Artikel dibawah ini cuman copy paste dari situs orang2 bego di
didunia maya, "artikel" ini adalah cuplikan referensi dari buku
"KRITIK ATAS JILBAB".
Im posting "artikel" tersebut bukan karena mendukung ide2 goblok
kaum sepilis, sekuler libral dan pluralisme, ini hanya diperuntukan
bagi mereka yang belum berjilbab, untungnya kontak ana yg akhwat
sudah veil semua... . bukan juga im nyoba frontal dengan tulisan!.
Im cuma pengen tahu bagaimana reaksi temen2 muslimah yang gak
berkerudung (yang berkerudung juga pasti boleh sih commentnya)
kalau baca "artikel" dibawah ini:...................

Mungkin simpul sikap dari mereka gak jauh dari dua kemungkinan:
1. Mereka yang mengaku muslimah namun belum berjilbab setelah
membaca semacam "tulisan yang kayak ginian" akan merasa malu sama
diri mereka sendiri, mereka tetap meyakini jilbab itu wajib, dan
mereka akan jujur dengan diri mereka sendiri, bahwa tidak
memakainya jilbab bagi mreka adalah kesalahan, minimal merasa
bersalah lah. Walaupun secara praktek mereka belum memakainya namun
secara i'tiqadi mereka masih meyakini bahwa hal itu adalah WAJIB.
Perasaan seperti itu paling tidak yaaaa muncul hanya ketika membaca
tulisan ini atau tulisan sindiran lainnya, fa maa ba'dahu
.................gw kagak teu???!!!
2.Kemungkinan selanjutnya: cewek2 yang punya KTP bertuliskan Islam
tersebut kalau baca "tulisan yang kayak ginian" mungkin malah
merasa punya angin segar untuk terus tidak berjilbab, dia malah
semakin menjadi2 untuk tidak belajar tentang Islam yang benar lagi.
Atau mungkin mereka buru2 buka situs2 sepilis dan buru2
mendaftarkan diri sebagai anggota baru JIL wa ashaabuhu.
Nah sekarang silakan simak cuplikan artikel2 begok dibawah ini:

..............................................................
Seakan-akan jilbab itu adalah Islam itu sendiri. Pertanyaannya,
benarkah jilbab itu adalah Syariat Islam?
..................................
Jawabannya tentu saja sangat panjang dan tidak hitam putih. Meski
jilbab hanya salah satu bagian pakaian untuk perempuan tapi konsep
ini punya sejarah yang sangat panjang. Sebagai pengantar untuk
buku ini, saya akan mengurai kata dan sejarah jilbab. Tak lupa,
saya juga akan kaitkan dengan konsep Islam menurut persepsi
subyektif saya tentang jilbab..................
.......................Menurut Ruth Rodded dalam bukunya Kembang
Peradaban, sampai sekarang masih terjadi perbedaan pendapat
mengenai makna dan penerapan praktis ayat-ayat hijâb. Perbedaan
pendapat ini juga berkisar pada definisi-definisi yang tepat
mengenai kata-kata tertentu (termasuk istilah hijâb), konteksnya
dan apakah peraturan yang ditetapkan untuk isteri-isteri Nabi harus
menjadi norma bagi semua perempuan Islam. Namun seperti yang
dikatakan Harun Nasution, “Pendapat yang mengatakan hijâb itu
wajib, bisa dikatakan ya. Dan yang mengatakan tidak wajib pun bisa
dijawab ya. Tapi batasan-batasan aturan yang jelas mengenai hijâb
ini tidak ada dalam Alqur’an dan hadits-hadits mutawatir.” (Islam
Rasional, h.332)
......................Nah, pandangan yang mengatakan bahwa jibab
itu tak wajib bisa kita baca di buku ini. Bahkan Al-Asymawi dengan
lantang berkata bahwa hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang
pewajiban jilbab atau hijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak bisa
dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai
perempuan, dampaknya akan besar. Seperti kutip-annya: “Ungkapan
bahwa rambut perempuan adalah aurat karena merupakan mahkota
mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahwa
mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang
merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan
kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan serba-aurat.”
Implikasinya, perempuan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa
sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba aurat.
.......................Buku ini, secara blak-blakan, mengurai bahwa
jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan
sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan
budaya daripada keharusan agama.

Setelah membaca tulisan ini dan ternyata makin banyak yang jadi
bego berarti im harus merasa bersalah nih, im cuma berharap semoga
corat-coret ini menjadi motivasi bagi kita yang masih berpegang
dengan exklusif-nya agama Islam, masih berpegang dengan ketentuan
bahwa hanya Islam agama yang benar dan selain itu adalah salah,
kita berhak menyalahkan agama lain dengan kesalahan, walaupun kita
juga harus junjung tinggi toleransi.
Kita harus benar2 lebih belajar tentang bagaimana menyikapi arus
deras kritik2 bodoh tentang islam. Mereka yang menantang Islam
dengan kontak fisik ok lah kita bisa hajar mereka dengan nendang
balik, tapi kalau mereka menyerangnya dengan perang
pemikiran....waduhhhh kayaknya im harus tetap selalu belajar,
sekarang im di al-azhar, moga nantinya bila dihadapkan dengan
permasahalan2 liberal im siap menghajar, aaaaaaaamiiiiiiin! (paling
nggak im sendiri lah yang meng-aminkan:D:D:D)

1 comments:

  1. waduhhhhhhhh...gue lagi nggak enak sama tulisan im sendiri, setelah im posting coretan diatas salah satu kontak im yang belum berjilbab langsung ngganti headshotnya dengan photo yg pakai jilbab. im kira tulisan ini nggak akan nyambung ke dia karena coretan ditatas im tulis pakai bahasa indonesia....eh nggak taunya judul blognya tetep bisa dipahami sama kontak im yang kebetulan orang 'londo' alias luar indonesia....katanya sih muallaf sudah sekitar enem tahunan....maafin mbak bukan im pengen nyindir sampean..:D:D:D
    Allah bless us!

    ReplyDelete