Friday, 18 January 2008

Ketertundaan yang Enjoy Life

Ini cerita pribadi, kisah nyata yang menceritakan tentang…yaaa gw!
Sekedar mengenang zaman dulu di boarding school, suka duka, pahit manis, senang sedih di Kampung Damai.

Bagian pertama:
Sejak capel (calon pelajar), tempat selazimnya adalah di Gontor 2, bimbingan untuk seleksi masuk Gontor 1.
Selama mendaftar kami diberitahu juga rayon yang akan menjadi kamar kami, hingga selesainya pendaftaran kami survai ke gedung mesir yang dahulunya belum menjadi penginapan tamu. Janggal perasaan kami ketika melihat suasana yang ramai (sighor man!), kotor, anak2 iseng dan bejubael seperti kurang terurus.
Hingga akhirnya mudabir dari ustadz menyarankan agar sebaiknya im pindah aja (mutasi) ke Albarakah, pondok nya pak Harmoko yang terletak di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Pagi itu juga kami ikut travel yang memang sudah bagian dari trik pondok untuk merampingkan santri yang ketika tahun 2001 sudah membludak di Gontor 2.
Dan, akhirnya Amin pun ikut juga travel menuju kota yang lebih timur dari Ponorogo. Hingga keputusannya Amin Capel di sana.
Tidak sempat Capel di Gontor 2 bukan berarti im gak pernah merasakan minum dari air Gorda. Hal itu digantikan  Allah, ketika masa pengabdianku ditempatkan di pondok yang diasuh oleh Ust. Saiful Anwar S.Ag Abu Abang, Dede dan si imut Mufti. Sebagai guru baru dan panggilan pertama di Gontor 2. Awal tahun pertama di KMI dan akhir tahunnya di KAPOK (kafe pojok).

Itu kisah capel, kelulusan berikutnya alhamdulillah diberi kesempatan menimba ilmu di Gontor 1. sebenarnya kalau im panggilan pertama kelulusannya di Albarakah, kayaknya lebih cocok di 1B deh (hehehe, dibilang juga kisah pribadi, ga ada yang cocok dengan cerita ini kecuali berkepribadian im sendiri, hihihi), ternyata Amin lulus di kelas 1C, karena memang kelulusan pondok alumni dinomor sekiankan dari pada kelulusan capel murni dari Gontor 2. Wal hasil kelas favorit baru ana dapat dikelas 2 hingga kelas 6 alhamdulillah B terus. Lain dari pada itu Amin dulu sempet juga sejak kelas 1 ingin masuk club olahraga PERBEDA (Prsatuan Bela Diri Darussalam), lagi2 anak baru, aktivitasnya dibatasin, baru deh kelas 2 bisa ikut gabung, alhamdulillah.

Bagian kedua:
Selanjutnya adalah satu kisah ketertundaan di kelas 3. Akhir tahun adalah masa dimana pergantian OPPM dan otomatis juga pergantian asistennya, nah Amin juga sebenarnya dah dicalonkan sama pengurus rayon yang kebetulan menjadi pengurus baru di Penerimaan Tamu, namanya saja tertunda....ketika berkas calon asisten diajukan ke pengasuhan ada satu nama yang tanpa photo, itu dia namanya Amin. Amin pun cancel menjadi asisten di kelas 3. Baru kemudian ketika kelas 4 sebagian asisten ada yang diturunkan karena berbagai alasa. Amin sebenarnya di lembar terakhir berkas pengajuan hingga........ "ustadz,dibelakangnya masih ada satu orang lagi" Herliansyah yang mengajukan berkas mengingatkan Ust. Munif agar nggak gegabah karena dibelakang sendiri masih ada satu manusia yang ditakdirkan dapat jatah untuk jadi asisten Penerimaan Tamu, "Oh...iya Amin Rois, bagus ini, ini sajalah" dan akhirnya Fadhilah Huda yang dicoret, maka resmilah Amin jadi asisten penerimaan tamu. Hehe enak lagi, jarang masuk kelas, sibuk diberbagai event pondok, bahkan bisa liburan di rumah ustadz senior.

Bagian ketiga:
Pengalaman dikelas selanjutnya, Pemilihan pengurus rayon kelas 5.
Malam pra pemilihan semua kelas 5 dikumpulkan di masjid untuk mendapatkan pengarahan umum bagi keseluruhan kelas 5 atau pengarahan khusus bagi mereka yang terpilih sebagai pengurus. Semua rayon sudah di sebutkan dari sighar dan kibar  lagi2 Amin belum kesebut namanya. Perasaan gimanaaa gitu sempet (sempet saja) sedikit ngejewer mental Amin ketika namanya tidak disebutkan sebagai pengurus, dan prediket gw sekarang PROLETAR, sebutan bagi mereka kaum yang tidak dipartisipasikan sebagai pengurus, entah rayon atau OPPM. Semalam suntuk kami bererita ma temen2 senasib, nanti tinggal di ITQAN sajalah, nanti di kamar qansul sajalah atau sharing sama temen2...........

Namanya saja tertunda, pastinya ada qadha penggantinya. Amin merasakan kesenjangan itu cukuplah satu hari saja. Sore hari ketika im latihan di Padepokan Satelit...."Min, nt dipanggil ke keamnan sekarang!" ngapain yah, atin im bertanya2, perasaan ga pernah ngelakuin kesalahan deh kok sampai dipanggike security. Tiba dikantor kemanan ternyata sudah ada Niko, Haris dan Amanaturrahman tsalatsatu kubronya. Tidak lama kemdian ketertundaan itu dijawab dengan keputusan pengasuhan santri bahwa, tadi malam itu sebenarnya ada satu rayon yang  belum disebut oleh pengasuhan karena file rayon tersebut eror dan hilang di computer. Rayon naas itu ternyata TEXAS, gak tahu sejak tahun berapa istilah itu dipatenkan sama temen2, yang pastinya menunjukan suatu rayon sighor, anggotanya lucu2, di gedung Saudi 3 lantai 1. Jadi deh Amin pengurus rayon TEXAS di bagian kemanan setelah ketua tiga.

Itu sejarah kelas 5, sejarah dimana psikologi kedewasaan kami beberapa tingkat dibentuk lebih maju dari almamater lain (cie elah…). Hari2 menjadi kakak, ortu, teman bahkan menjadi disipliner bagi anggota (kenangan penuh makna, ketika miniatur hidup teringkas di tengah hegemoni pedidikan,)

Bagian keempat:
Lanjut aja sampai akhir tahun, ketika datang masa pergantian OPPM, kelas 6 yang memegang amanah kepengurusan disemua bagian diestafetkan ke kelas 5. Ketika itu hampir 50 persen dari 5 B adalah dari kelas biasa, masa pertama pergantian diisi oleh anak kelas 5 yang dari kelas biasa.
Hari kamis pagi jam pelajaran ke-2 Ust. Rudi dari Ponorogo datang kekelas dengan membawa map merah. Satu persatu temen2 yang dari kelas biasa dipanggil keluar, itu pertanda bahwa mereka orang terpilih yang diberi kesempatan untuk memegang amanah dibagian, teman yang dari intensif juga ada karena dulu pernah istirahar setahun. Im duduk dibngku terdepan sebelah kanan, tempat duduk yang strategis untuk segalan kenangan dikelas bersama shabat. Sudah sekian puluh orang dari kelas kami dipanggil keluar, dna semua teman2 yang keluar adalah yang semua dari kelas biasa kecuali, Im (i am).
Satu2nya anak kelas biasa di kelas 5 B yang belum berkesempatan untuk diaktifkan di kepengurusan OPPM, walwpun dari segi utusan konsulat im yang jadi urutan pertama, ketua OPPMnya juga rayon im, kakak kelas dari macam2 bagian juga ada yang mengkandidatkan im. Tapi emang jundiy inilah yang membuat aliran air disungai mengalir tersandat di kubangan. Alasannya kenapa belum berkesempatan karena memang seminggu sebelum pemilhan im terkena sanksi potong rambut ala ABRI, atau dalam istilah kasarnya adalah cukur kuncung (eh kemarin ketika ujian muqabalah ketemuan sama yang ngasih sanksi ke im, ketemu biasa saja, ngajak salaman, tanya tentang keadaan masing2...)
Haha…itu hanya sekelumit dari miniatur kehidupan kami di ITTC, bukan segalanya untuk disesalkan. Im pun tetap tinggal di rayon menjadi ketua bagian di 'keamanan rayon'. Itu hanya bertahan selama satu mingu, bukan im gak betah atau minder, karena memang seminggu kemudian im dan temen yang dari kelas biasa juga dipanggil oleh Pengasuhan Santri, ditetapkanlah im menjadi pengurus harian dibagian swasta: ITQAN, instansi yang im gelutin sejak kelas 3. Mungkin itu adalah yang pertama kalinya bagi bagian swasta yang pengurus hariannya adalah dari kelas biasa. Pembagian yang laizm adalah: anak biasa di OPPM dan anak intensif di Bagian Swasta.

Hingga kenaikan kelas 6, masa OPPM berubah berkala menjadi PBR (panitia bulan Ramadhon) dan lanjut dengan PBS (panitia bulan Syawwal) hingga balik lagi ke OPPM. Sejak PBR itulah im pindah status menjadi anak kelas biasa yang hakiki, pasalnya semenjak kepanitiaan itu im pindah tugas di bagian kantin. Bagian dari step kedua dalam pendidikan berorganisasi. Masa amanah itu berjalan seiring suka duka dengan para pekerja. Ketika kami bermu'asyarah dengan mereka seolah-olah mereka mengingatkan bagaimana orang tua mengais rizki untuk menyambung hidup, pagi mengantar makanan, sore balik lagi, uang gak cukup untuk belanja maka mereka pinjam ke bagian. Benar2 miniatur kehidupan orang tua, hal itu seolah-olah mengingatkan kami akan Ayah Ibu kami, bekerja membanting tulang demi anak.

Prosesi inilah yang mungkin dikemudian hari im reduksikan untuk lebih tabah ketika menghadapi batu rintangan dalam berjalan, agar bersabar dikala gagal, karena memang kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda.
Yang pastinya, ketertundaan ini bukanlah untuk dijadikan tujuan, hal ini sekedar menilik hikmah yang memang selalu dibalik kejadian.

 

 

0 comments:

Post a Comment