Sunday, 13 January 2008

Rating:
Category:Other
EYD baru dalam kitab suci kita! (bagi yang sudah tahu anggap saja baru disini adalah sebagai baru baca tulisanku, ok!)

metode baru yang im dapat malah dari tukang penjahit. eit jangan sembarangan! nih penjahit disamping ahli ceramah, tailor dan juga alumnus pondok (dia sempet mengelak ketika im tanya pondok mana, tapi sepertinya memang bukan pondok gw). yang alumni ITTC mungkin masih inget sama yang namanya Mustika Yadi Tailor, biasalah lah anak pondok klw pengen buat celana paling ga jauh dari Mustika Yadi, AR Tailor n Mahkota Tailor. yup! MY Tailor, im dapat sekilas info dari buku garapannya yang, sebenarnya udah jadi tapi untuk penerbitannya dia masih cari link agar terbitnya nanti bener2 dipakai sebagai standar pengejaan, minimal utuk bacaan referensi dan pelengkap walaupun dia ketika bercerita begitu menggebunya untuk menggoalkan metode tersebut, dari berusaha contact ke Hasyim Muzadi, pak Hasan dll.
sekali mendayuh 2 3 pulau terlewati, sebenernya im pengen buat celana eh tak taunya dapat cerita bukunya.

dia mengawali launching bukunya dengan bercerita tentang tantangan muslim di era modern. kita tahu bahwa modernisasi ga jauh dari yang namanya transmisi2 ilmu, kebudayaan, peradaban, pemikiran dan lain2. nah dari macam2 transmisi tersebut tak pelak akan maraknya translasi bahasa2 asing.
salah satu bahasa yang masuk kateagori asing yang ia maksud adalah bahasa Arab, lebih spesifik lagi dari pembahasan bukunya yaitu tentang tata cara pengejaan Alquran.

sudah banyak kita ketahui ketika membaca buku2 literatur islam, coba kita lihat di bagian editorialnya atau mungkin di lembar catatan halaman pertama, mungkin kita akan menemukan berbagai macam transelasi n pengejaan yang distandarisasikan sama masing2 pihak penerbit atau penulis.
nah pak Yadi ini mencoba membuka wacana baru (inget yah; wacana! bukan pernyataan, jadi beliau mungkin masih menerima masukan) tentang tata cara pengejaan alquran. namanya saja alquran, disana ada ketentuan2 khusus untuk pengejaan apalagi penerjemahan. dalam alquran kita dituntut untuk memperhatikan detail dari makhorijul hurufnya jika ingin mengeja dengan bahasa indonesia.

nih ada sebagian contoh dari point2 yang ana ingat ketika silaturahim ma beliau:
1. tentang penulisan lafdhul jalalah utowo Allah, banyak dari kita menulisnya dengan 'a' bukan 'o'. dan menurut dia penulisan yg bener tu pakai 'o'. ditakutkan klw pakai 'a' nanti pengejaannya akan seperti wong2 selain islam mengeja nama tuhannya.
2. masih tentang lafadh diatas, diusahakan ketika menulis lafdhul jalalah memakai huruf kapital semua, huruf gede maksudnyaaa. yah...katanya sih karena lafdhul jalalah lafadhnya Allah; begitu bermaknaya lafadh tersebut serasa kurang srek (klw ini mah istilah im sendiri) klw kita nulisnya pakai letter kecil, simpul kata dari 2 point diatas dalam penulisan lafdhul jalalah adalah dengan: ALLOH.
3. menginjak point yang masih ana inget dengan pasti dan emang ini yang im setuju untuk digoalkan yaitu; dalam pengejaan huruf hijaiyyah, fokus utamanya tentang huruf hamzah mati dan 'ain.
sering kan kita kebingungan, semical pengen nulis kalimat -ta'kulu-: hamzah mati di eja dengan huruf a dengan tanda koma atas setelah a-nya=a'
mungkin tak ada masalah kalau pengen nulis 'ain hidup, tapi kalau kita pengen nulis 'ain mati seperti dalam kalimat -ta'budu- kita bakal kerepotan, soale kalw kita nulis dengan ta'budu maka secara gak langsung kita akan mengejanya seperti hamzah mati. dari situ beliau ingin menetapkan ejaan untuk 'ain entah mati atau hidup maka dengan tanda petik (koma dua diatas), semical kalw kita pengen nulis ta'budu maka yang bener adalah dengan -ta"budu- jadi a-nya dikasih tanda petik setelahnya: a" kalau mati dan tanda petik sebelumnya kalau hidup "a.
4. hahaha, point keempat dah lupa so sory aja yah!






0 comments:

Post a Comment