Tuesday, 29 January 2008

MONOLOG
(Qaris Tajudin-Antalogi Puisi: NAFAS PERADABAN)

Kursi-kursi kayu berjajar
Matahari musim panas dan tenda hijau
Meja bundar tembaga
Pinggan dan segelas teh kental
Sebingkai cermin, umurnya dua abad

Terlalu banyak yang lalu
Di depan cermin tua ini
Juga bayangan wajah di hadapanku
Bayangan wajah yang amat kukenal

Bayangan itu tiba-tiba menua
Dengan uban pada rambutnya
Dengan kabut pada korneanya
Dengan tumpukan lemak dibawah matanya
Dengan lekuk dan keriput bak kulit pohon pinus

"Aku lelah mencarimu",  kataku
"Aku mencarimu
Di permukaan air sungai yang kepreakan
Di lautan yang bergelombang"

"Tentu,
kau tak akan menemuiku
di sungai dan lautan
Karena Aku adalah danau tenang berbayang-bayang
Tempat bermuaranya sungai-sungai
Tempat bercermin dan bersesal"

Sungai dan lautan bukan tempat bercermin
Tak ada bayangan yang kau tangkap
di air yang mengalir.
Teruslah mengalir dan bergolak
Karena kau masih sungai
Karena kau belum "mendanau"

"Apa kabar masa depan?"
Berceritalah kepadaku,
Tentang bayang-bayang di danau"

"Tuhan melarangku bercerita tentang danau itu
Bersabarlah.
Masa depan untuk diperjuangkan
Bukan untuk dirumuskan
Untuk dipilih tapi tidak dipaksakan
Untuk dijalani tapi tidak "dimestikan"

Perlahan bayangan itu memuda
Dan menjadi bayangan yang kukenal
Yang harus membayar segelas teh
Dengan tangan kirinya

alamin said: bait diatas adalah salah satu kumpulan dari antalogi puisi yang memuat 64 judul puisi karya 15 penyair muda indonesia di cairo: NAFAS PERADABAN.

0 comments:

Post a Comment