Thursday, 24 January 2008

Belajar Sejarah Atau Dari Sejarah

Inget Pak Guru lagi nih, suatu ketika guru sejarah im masuk kelas "selamat siang anak2, apa pelajaran kita kali ini.......?" gaya khas yang emang dibuat khas, soale dipelajaran lain pasti bunyinya beda "...kaifa haalukum, a antum bikhoirin?" atau "madza darsunal aana....?" kita pun serempak menjawab "darsunal aana bla bla bla..."

Nah Pak Guruku yang satu ini memang ciri khas mengajarnya beda dari yang lain, dia selalu menarik perhatian kami dengan obrolan ringan yang patut untuk disimak, maklum lah, pelajaran sejarah memang rata2 ditempatkan di jam pelajaran akhir, tahu sendiri deh kalau sudah siang mood belajarnya gimana, makanya pak guru ketika menyapa hari kami dengan "selamat siang...". Kali ini pak guru ngasih pertanyaan simpel tentang kalimat simpel. Pak guru bertanya kepada kita tentang "belajar sejarah" atau "belajar dari sejarah" dua jumlah tersebut emang beda dikit, pertama tanpa
kata-kata "dari" yang kedua dengan kata"dari", ternyata
satu kata bisa membedakan dalamnya makna.


"Belajar sejarah" yang dimaksud pak guruku adalah tentang
gambaran kami atau siapa aja yang pernah merasakan pendidikan
sekolah, ketika kita masuk kelas dan kita lihat jadwal kita buru2
keluarkan buku sejarah karena emang sekarang dah waktunya ganti
pelajaran. Kita dengan sigapnya menaruh buku tersebut di atas
meja, kita tunggu pak guru menyapa pelajaran apa, mungkin bagi
yang aktif barulah dia membuka dan membaca kata yang tertulis
dalam buku, bagi yang pasif mungkin cuma menunggu perintah pak
guru atau sambil pijet2an sama temen karena emang matahari sudah
meninggi hawa panas pun makin menjadi (maklum brow kelas im dulu
di komsol: gedung pojok dari pondok, panas gitu loooh, belum lagi
klw staff KMI dah standby sambil bawa black-list, jadi deh kita
maraton ketika masuk kelasnya...). Ya, belajar sejarah yang dimaksud Pak Guru
adalah gambaran2 tentang kita yang dulunya belajar hanyalah sekedar baca
kulit dan topengnya saja, padahal kata wong bijak Arab kayak gini
nih: -al'ilmu fisshuduur laa fissutuur- yang namanya ilmu itu
disimpen didada, maksudnya disimpan dilubuk hati  yang berbuah
implementasi dan otak, bukannya sekedar menghafal  ketikan2  
keyboard yang hanya dibaca sekilas ketika ujian datang dan masuk
kardus setelah "tasyakuran atas selesainya ujian" (agenda tahunan
pondok sebelum pemberian pesan dan kesan untuk liburan).

Yang mau ditekankan sama Pak Guru tidak lain adalah agar kita
bener2 bisa mengambil tujuan apa yang kita pelajari, kita ambil
inti dan tidak hanya bersandar yang dhohir dari kerak bumi.
Kebetulan pelajaran kami adalah sejarah maka guruku menekankan
agar kami benar2 "Belajar Dari Sejarah", sering juga kami dengar
dari almarhum Ustadz Badri kata-kata "jas merah" -jangan sampai melupakan
sejarah- banyak buku sejarah tertumpuk disudut ruang hidup kita,
sekalipun tumpukan itu rapi namun kalau tanpa bercermin kepadanya
jadilah wujuduhu ka'adamihi alias -wujudnya sama dengan tidak
adanya-, belajar dari sejarah adalah kita melihat kebelakang
untuk melangkah ke depan, emang bisa? ya iya laaaah, melihat
kebelakang yang dimaksud adalah kaca spion untuk jalannya mobil.
Kita bukannya tidak mau maju dengan melihat kebelakang bukan pula
munafik untuk tidak menerima globalisasi, semua yang didepan
adalah tantangan namun, yang belakang tetaplah punya andil untuk
tetap bisa lurus berjalan. Bukankah "guru terbaik adalah
pengalaman" dan tidak ada pengalaman kecuali adanya kejadian, dan
tidak ada kejadian kecuali ada hikmahnya. Hikmah memang akan
selalu dibalik kejadian, ya, dia akan selalu dibalik dan tidak
akan pernah didepan, maka wajarlah kita untuk selalu jeli dalam
menghadapi hal-hal baru dan spontan di depan mata.

Lebih lanjut dari itu, ternyata banyak kejadian zaman dahuulu
yang sama dengan sekarang, system kejadiannya boleh beda tapi
makna dari kejadian akan selalu sama, literatur boleh berubah
namun kulturnya akan tetap sama. Ibnu Khaldun menggambarkannya
dengan "dua tetesan air di atas jamban" dimana bekas gelombang
dari tetesan pertama dan kedua tidak akan jauh beda, karena
manusia diciptakan ya hanya dengan itu-itu saja, dia tidak pernah
terlepas dari gambaran umum sebagai manusia dengan kebaikan dan
keburukannya. Bentuk kebaikan bisa tercermin dengan apa saja
begitu juga tentang keburukan, tapi hakikatnya hanyalah sebatas itu: baik
dan buruk, hanya hitam dan putih. Hitam dan putih itu tanpa abu-
abu, bagi mereka yang benar2 punya azam kuat dalam memandang
kejadian dia tidak akan pernah menemukan abu-abu, warna yang
menjadi icon tentang hal yang ragu.

Belajar dari sejarah adalah belajar dari umat2 terdahulu,
terlepas dari gambaran mereka menunggang onta atau kuda, tidur
diatas pelepah kurma atau berbangun rumah tanpa tangga. Itu semua
hanyalah system kehidupan saja, sedangkan makna kehidupan sendiri
akan selalu sama, entah itu kehidupan zaman Biziyantium atau milinium.

Jam kelas sudah menunjukan pukul 12.15 siang,..............
Akhirnya....., Pak Guru mungkin berkesimpulan bahwa belajar dari
sejarah adalah pergi kesekolah kemudian membuka dan membaca buku
sejarah hingga kita benar2 bisa bercermin dari "sejarah".

0 comments:

Post a Comment