Wednesday, 23 January 2008

Prolog:
Alhamdulillah, lisan ini masih mampu tuk sekedar bertutur puji bagi-Nya.
Tak ada rasa syukur yang lebih untuk disyukuri kecuali ketika kita lepas bebas dari ujian. Ujian, tak ada kenaikan tingkat kecuali dengan ujian, bahkan Allah sendiri memilah milih hamba yang benar2 menghambanya salah satunya dengan ujian.

6-23 Januari:
Rentang waktu yang cukup lama untuk dilewati di tengah cuaca dingin gurun, menghuncam tajam sedalam akar gunung ( hehehe.....seolah-uluh gitu loh, habisnya sih, suhu disini mengingatkanku tentang ikan tongkol  yang didinginkan dikulkas, dingin bert -banget-). Kedatangan kami 4 Desember lalu hanya menyisakan sedikit waktu dan cukup jauh dari siap diuji, 30 hari untuk menyesuaikan diri dan disibukan dengan njlimetnya mengurus administrasi hingga tanggal 6 januari. Pelajaran baru dengan istilah2 baru, buku pun juga diterbitkan dengan edisi baru, huhhh...cpek dehhh. Persiapan tempur memang sudah dilakukan, dengan do'a dan usaha tentunya!. Ikut bimbel yang terjadwal atupun bimbel tambahan, karena emang im dan temen2 dah ketinggalan.

Ada hal aneh bagi kami selaku maba (mahasiswa baru), mahasiswa bila masuk di bangku perkuliahan dan menginjak semester pertama lazimnya pengarahan tentang perkuliahan, kampus, dosen literatur jami'ah dan lain sebagainya. Hal itu bukan hal yang pertama kami rasakan sebagai mahasiswa baru, kedatangan kami sudah dipermak beda dengan yang lain, rombongan datang dan senior 'pun menghadang', jadwal2 ujian sudah terlalu awal disebar, tempat2 bimbel tambahan sudah mulai bertebaran, kajian2 tentang tata cara ujian juga menjadi jadwal kami dalam penyambutan.....tapi alhamdulillah, seluruh muqarrar sudah dibelikan. Terimakasih panitia maba IKPM!, banyak jasa yang walaupun sederhana namun banyak manfaatnya.

6-23 Januari: 17 hari sekian ribu detik aku meniti. Bukan apa2 seeh! cuman ketika kami dipondok untuk ukuran ujian 6 diktat kuliah itu hanya butuh 3 hari, kalaupun mentok maximalnya 6 hari laah. Bukan sombong, tapi memang kenyataan seperti itu.
Terakhir kami tahu bahwa ujian diluar negeri benar2 beda dengan negeri kami, banyak faktor yang mempengaruhi ujian termin pertama, apa lagi bagi kami selaku mahasiswa baru di universitas tertua dan penduduk baru bagi sebuah negara asing yang perbedaan peradabannya sangat kentara (hehehe mesir gitu loh...!). Dari transportasi, makanan sehari2 hingga bahasa 'amiyah mesir sendiri, semua itu menjadi bumbu ketika baru mencicipi ihwal negeri ini, tapi sayangnya (nggak begitu sayang sih, im yakin pasti ini semua punya nilai hikmah bagi kami) semua itu terakumulasi di waktu yang diangkat dalam tema judul blog ini: "Ujian Termin Pertama............................"
Dan, ujian itu sekarang sudah tuntas, aku pun merasa bebas, tapi bebasnya kami bukanlah lupa untuk selalu berhikmah dan brcermin dari banyaknya kekuarangan yang ada, im dan temen2 senantiasa berdo'a dan brusaha, seperti kata bijak khowathir pendahulu kami, Ustadz Qurasih Syihab (gelarnya terlalu panjang sih, jadi im nggak hafal): Walaabudda ma'al yadil multamisati ad-dhoori'ati wa ukhroo 'aamilatun (di muqaddimah buku beliau yang berjudul:  "LOGIKA AGAMA").....sudah selazimnya disamping tangan kita menengadah keatas maka di satu waktu itu juga tangan kita kepalkan (hehehe emang bisa tuh...:D:D:D.

Tapi alhamdulillah, lisan ini masih mampu untuk sekedar berbilang puja bagi-Nya, di karpet lusuh masjid Husein aku rebahkan kaki dan tangan, hingga kusujudkan kening seraya merendahkan diri demi tazkiyahnya hati sembari bertilawah syukur pada Ilahi: "Sajada wajhiya lilladzi................................" terusin sendiri!

0 comments:

Post a Comment