Monday, 21 January 2008

Rating:
Category:Other
Prolog:
Cerita metamorfosis dari fauna kecil di alam kita,
baru kepengen nulis setelah silaturahim ke tetangga samping yang kebetulan lg posting graphic tentang kupu2, indah banget.

"Sang Ulat Sudah Menjadi Kupu2, Lha Kamu?"
bait diatas sengaja im tulis untuk sambutan disetiap im ngaktifin hp: N 23 (Nokia Dua Ribu Tiga Ratus, hahahaha, sempet wahhh yah!).
Ulat, menurut im mendingan megang ular daripada nyentuh ulat, binatang melata berbulu warna-warni, tapi justru dari spektrum warnanya im merasa hiiiii merinding, gaya jalannya yang bermodal perut melenggok2 persis menggambarkan lenggokan jijik di tipi2, si Ulat merusak keindahan bunga, daun dan keindahan alam lainnya.

Tapi ini emang sudah takdir dari-Nya, dengan keadilan Allah, ulat yang dulunya mengerikan akhirnya sampai di titik jenuhnya. Jadilah dia bersemedi, puasa sekian hari lamanya, mengunci diri dari keramaian terpenjara dalam kepompong.
Sekali lagi, Subhanallah! Setelah pertapaannya si Ulat sudah siap Keluar lagi, dia nggak lantas ngambek dalam pertaubatan merasa bersalah dalam segala hal dan lantas terbungkam tanpa amal, dia punya prinsip bahwa taubat nggak hanya sekedar 'uzlah, istighfar dan tanpa berbuat kebaikan. Hal itu mungkin sudah menjadi animal instinctnya ulat: "........wa atbi'issayyiatal hasanata tamhuhaa" itu animal instinct mas, lha kita yg human being? punya otak tuk berfkir dan lubuk hari tuk instropeksi.
Dia sudah menjadi Sang Kupu, kemilau warna itu benar2 menggambarkan kesempurnaan dalam penciptaan, jadilah dia sang penghibur dikala musim semi, icon bagi hati yg muda-mudi (yg tua nggak sah tersinggung nggih!). Bahkan si Kupu menjadi bagian bukti dari ayat ilahi, di setiap kepakan sayapnya menghamburkan bibit baru kehidupan, ia silang kawinkan benang sari dan putik jantan. Dia juga jauh dari gambaran lebah ketika tertawan, si Kupu amatlah mudah kita genggam, dia tahu bahwa lembutnya tangan kita takkan menyakitinya.

Epilog:
Sungguh indah alammu Tuhan, hingga tak hentinya metamorfosis itu kau jadikan untuk kami pelajaran, subhanallah wa bihamdih!

0 comments:

Post a Comment