Friday, 1 February 2008

Rating:
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:Raghib Sirjani
Cuman pengen bilang kalau im dah ketemu sama penerjemahnya, n becanda sama anak2nya yang atraktif banget "Duo-Amr"...lucunya anak2 itu....

Sehari kemudian.....ternyata ada comment dari Pak BaturMalang suruh sekalian referensinya ya udah im cariin terus ketemu deh...:))

Shalat Subuh menyimpan berjuta misteri, tak heran jika salah seorang
tokoh Yahudi terkemuka dengan emosional menyatakan, “Kami baru takut
terhadap umat Islam jika mereka telah melaksanakan shalat Subuh seperti
melaksanakan shalat Jum’at.”

Ternyata dibalik pelaksanaan dua rekaat di ambang fajar, tersimpan
rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang, bila dirunut,
bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Itulah sebab,
para sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu
emas itu. Pernah suatu ketika mereka terlambat shalat Subuh dalam
penaklukan benteng Tastar. “Tragedi” ini membuat sahabat semisal Anas
bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.

Menariknya, Subuh ternyata juga menjadi waktu peralihan dari era
jahiliyah menuju era tauhid. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka
lainnya, dilibas adzab pada waktu Subuh-yang menandai berakhirnya
dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid.

Buku ini mencoba menganalisis bahwa keterpurukan umat ini, tak lepas
dari akibat diremehkannya shalat Subuh. Bagaimana alur logikanya? Dr.
Raghib As-Sirjani mengulas secara tuntas dalam buku ini.

Keluasan wawasan penulis, ditambah kedalaman pengetahuannya akan nash-
nash syar’i, menyadarkan kepada kita begitu istimewanya shalat Subuh
yang selama ini kurang banyak dimengerti oleh umat Islam. Tak lupa
beliau tuliskan tips-tips praktis agar mudah melaksanakan shalat Subuh.

Catetan foot: alasan kenapa "beliau" menerjemahkan katanya buku karangan DR. Raghib Sirjani ini mempunyai gaya tutur bahasa yang nggak menggurui, luwes, retorikanya mantep lah! Dah deh pokoke baca ndiri aja::))
Terlepas dari hal diatas ada yang timpang "katanya", menurut kabar burung dari Indo si Aqwam (Penerbit: www.aqwam.com) nggak menuliskan nama penerjemahnya (pastinya ada alasan internal lahh)......:-?

15 comments:

  1. sekalian dibuatkan resensi-nya, im...

    ReplyDelete
  2. kirain dah pada tahu om, soale tuh buku dah best seller, im sendiri belinya jauh2 hari sebelum dia jadi "best seller"......ya mungkinlah nanti:D

    ReplyDelete
  3. awalnya cuman nulis kayak gini. (titik)

    ReplyDelete
  4. awalnya cuman nulis kayak gini tok.(titik)

    ReplyDelete
  5. pak, udah ana posting resensinya n bisa dinikmati apa adanya, insyaAllah nanti menyusul tiga buku lain tentang subuhan semuanya....

    ReplyDelete
  6. Tapi, sayang
    Terlalu teoritis
    Gak terlalu "menyentuh" hati

    ReplyDelete
  7. ehmmm..... dah "baca" blm bos???
    penerjemahnya sendiri bilang ke gue, alasan beliau menerjemahkan buku itu salah satunya karena justru gaya tulisan penulisnya (Raghib Sirjani) penuh retorika bijak dan nggak menggurui.......nah

    ReplyDelete
  8. Udah..
    Tapi beda sama gaya nulisnya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
    Walaupun misteri shalat subuh bisa dibilang bagus
    Tapi, kurang bisa "MENGAJAK" pembaca

    ReplyDelete
  9. konskwensinya....... sampean pasti ada alasan khusus kenapa buku ini jadi best seller, kasih teu dunk bang!

    ReplyDelete
  10. Ya.., mungkin jadi best seller gara-gara ISI nya bagus
    Sebab disertai dengan dalil yang lengkap
    Tapi ya itu tadi.., biarpun ISI nya bagus
    Tapi kurang bisa mengajak
    Sehingga misalkan dibaca para jomblo di warung sebelah yang hobi berantem itu
    Kurang bisa meninggalkan bekas di hati
    Kurang bisa membuat mereka INGIN melaksanakan shalat subuh
    Sebab kurang mengajak

    ReplyDelete
  11. klw type "jombloaniyyun elwarungi" plus suka berantem lagi.....ya emang bukan suguhan dia lah mas, setiap buku punya target pembaca sendiri2, jgn pernah berharap "Arruh" dibaca sama anak bengkel, buku politik jg gak kan dibaca sama petani......

    klw memang untuk mereka (jomblo warung), buku yg baik yaa yg gaya penulisannya kayak antum, sampean siap kan.....

    ReplyDelete
  12. Tapi pas debat masalah pacaran
    Trs daku pake referensi dari bukunya ibnu qayyim al jauziyyah, mereka nyambung tuh
    Trs pas masalah doa dan dzikir, daku pake "soto sufi" nya dzawawi imron, juga nyambung tuh
    Oleh karena itu, menurut daku, yang kurang di buku ini bukanlah "materi" nya
    Tapi cara penyampaiannya

    ReplyDelete
  13. BETUL!!!!
    jadi finalnya: thoriqah itu ahammu minal maddah, bahwa metode/ cara lebih penting dari materinya......

    materi buku baik utk sebagaian orang, cara penyampaian materi baik utk sebagian orang, tergantung orang kedua/ ketiganya (mukhotob), relativ lah...

    ketika itu kan MAS TOGI yang make, bukan dibaca langsung sama mereka kan...., jagnan kan "soto sufi", buku2 sufi sulit, njlimet lainnya klw emang cara penyampaiannya disesuaikan dengan mukhotob ya insya Allah jebol/ masuk ke otak mereka....

    MISTERI.S.S, proporsinya emang bagi mereka yang udah in dalam Islam, dia hadir untuk memanaskan kembali lemah semangat dalm beribadah, kalau untuk orang2 yg mas Togi bilang ORG2 WARUNG.....buku2 materinya dan cara penyampainnya harus disesuaikan dengan metode FIKIH DAKWAH mas....

    ReplyDelete